Kamis, 18 Desember 2014

AHLUSSUNNAH DAN AYAT MUTASYABIHAT

AHLUSSUNNAH DAN AYAT MUTASYABIHAT
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الأحد الصمد الذي ليس كمثله شيئ والصلا ة والسلام على إمام الموحدين سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين أما بعد

Kita akan berbicara tentang ayat-ayat mutasyabihat atau ayat-ayat sifat dan hadits-hadits sifat. Maksudnya adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, yang secara dhohir menunjukkan bahwa Alloh SWT mempunyai anggota badan, seperti : mata, tangan, wajah dan lain sebagainya. Atau sesuatu hal yang menjadi kekhususan sifat-sifat makhluk,  seperti : duduk, turun dan lain sebagainya. Kemudian lafadz-lafadz tersebut dinisbatkan dalam ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi SAW kepada Alloh SWT.
Dalam hal ini ada kelompok-kelompok  yang sesat di dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits  tersebut.


 Kelompok Yang Sesat ( Ahli Ta’thil dan Ahli Tasybih )

Ahli Ta'thil

Kelompok sesat yang pertama adalah ahli ta'thil, yaitu : Mereka yang serta merta mengatakan Alloh SWT tidak bersifat seperti itu. Ini adalah kelompok pertama yang sesat. Misalnya tentang ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
 ﴿ الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ﴾   
“Alloh SWT beristiwa’ di atas ‘arasy”
Ahli ta'thil mengatakan bahwasanya Alloh SWT tidak beristiwa'  atau ada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Alloh SWT berfirman :
﴿ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدي ﴾
"yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku"
 Kemudian ahli ta'thil mengatakan bahwa Alloh SWT tidak mempunyai tangan maka itu adalah ahli ta'thil  yang sesat.   Sebab benar-benar tersebut di dalam Al-Qur’an tentang masalah tangan dan istiwa'nya Alloh SWT akan tetapi mereka mengingkarinya.

 Ahli Tasybih

Orang tersesat yang kedua adalah mereka yang mengukuhkan sifat tersebut, tetapi dibawa kepada makna dhohirnya. Makna dhohir yang sudah biasa dipahami oleh manusia. Jika disebut tangan, semua orang yang berakal akan faham bahwasanya yang dimaksud tangan adalah tangan yang ada di anggota tubuh. Bahkan jika kita menemukan binatang yang pertama kali kita melihatnya sekalipun, kita bisa menunjuk mana tangan dan mana kaki. Jadi kalau disebut tangan, maka akan terbayang di benak seorang hamba adalah tangan yang telah atau pernah diketahui.

Dalam hal sifat-sifat Alloh SWT ada sekelompok yang langsung mengukuhkan sifat tersebut dan dibawa kepada makna dhohir lafadz tersebut dan ini pun adalah juga kelompok sesat, ini adalah ahli tasybih yang  menyerupakan Alloh SWT dengan makhlukNya.  Sungguh Alloh SWT sangat berbeda dengan makhluqNya :
﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ﴾
Bahkan kadang-kadang mereka para ahli tasybih masih berhujjah dan berkata "kita bawa lafadz ini kepada makna dhohirnya lalu kita serahkan makna yang sesungguhnya kepada Alloh SWT.  Ini adalah suatu pertentangan yang jelas dalam memahami ayat tersebut, sebab kalau seseorang mendengar kalimat  tangan atau wajah disebutkan maka tidak akan difahami kecuali bentuk jisim  dan benda materi yang sudah maklum itu, dan ini tidak boleh dinisbatkan kepada Alloh SWT.

Bentuk pertentangan kelompok ini adalah saat mengatakan bahwasanya memang betul yang dimaksud wajah dan tangan itu seperti dhohir lafadznya, akan tetapi maknanya kita serahkan kepada Alloh SWT. Mereka mengatakan "kita serahkan pada Alloh SWT", dalam waktu yang bersamaan dia telah mengukuhkan bahwasanya maksudnya seperti yang disebutkan dalam lafadznya. Ini adalah pernyataan yang saling bertentangan. Bagaimana menyerahkan maknanya kepada Alloh SWT sementara mereka telah menentukan makna pemahamannya dengan akalnya. Maka jelas ini adalah tidak benar, mereka adalah ahli tasybih yang menyerupakan Alloh SWT dengan makhluq.

Kelompok Yang Selamat (Ahli Tafwidh dan Ta’wil)
Ini adalah kelompok yang selamat. Yaitu kelompok yang menjauhkan lafadz tangan, wajah dan lain sebagainya dari makna dhohirnya. Kemudian setelah menjauhkan dari makna dhohirnya, ada dua cara  dalam memahami lafadz-lafadz tersebut :
Kita serahkan maknanya kepada  Alloh SWT. inilah yang disebut  ahli Tafwidh.
Kita mencari makna yang sesuai dengan Kebesaran  Alloh SWT, sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab.

 Misalnya kalau kita menyebut istiwa' Alloh SWT atau tangan Alloh SWT,  maka menurut ahli Tafwidh pertama kali yang harus dilakukkan adalah menyerahkan maknanya kepada Alloh SWT dengan menjauhkan lafadz tersebut  dari makna dhohir yang biasa difahami  oleh akal manusia. Ahli Ta’wil  mengatakan bahwa kita jauhkan dari makna dhohirnya kemudian kita carikan makna yang sesuai lafadz tersebut dengan  dalil-dalil yang sudah jelas, misalnya lafadz istawa dalam :
 ﴿ الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ﴾
"Alloh SWT di atas 'arsy"
Bisa kita artikan di sini "Berkuasa", karena memang Alloh SWT  :
﴿ عَلى كُلِّ شًيْءٍ قَدِيْر ﴾
"Alloh SWT Maha Berkuasa atas segala sesuatu"
Atau makna yang lainnya yang sesuai dengan Kebesaran Alloh SWT. Artinya sifat Alloh SWT Yang Maha Kuasa adalah sesuatu yang sudah jelas dan pasti benar di dalam syari'at. Kita menghadirkan makna ini bukan kita mengubah makna lafadz  yang ada  akan tetapi untuk  menjauhkan dari makna dhohir yang bagi orang yang belum bisa mengerti tafwidh akan menghantarkan kepada  tajsim atau tasybih atau menganggap Alloh SWT itu jisim dan materi atau menyerupakan Alloh SWT dengan makhluqnya.
Abul Hasan Al-Asy'ari dan Asya'iroh menggunakan manhaj Tafwidh dan manhaj Ta'wil. Dan ini semua adalah karena  mencontoh Ulama'-Ulama' terdahulu. Artinya manhaj Tafwidh dengan Ta'wil itu sudah ada pada zaman para salafuna sholih. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa para salaf tidak pernah menta’wil.

Contoh-contoh Tafwidh :
Disebut wajah Alloh SWT dalam Al-Qur’an :
 ﴿ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾
 "Semuanya hancur kecuali wajah Alloh SWT"

Ahli tafwidh memahami  dengan dua kaidah:

1. Kita jauhkan dari makna wajah yang kita pahami.

2. Kita serahkan maknanya kepada Alloh SWT, tidak usah dibahas begini dan begitu. Begitu juga ayat :

﴿الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوى ﴾
Maka yang harus kita pahami adalah menjauhkan dari pada makna istiwa' yang sudah kita ketahui, seperti : bersemayam, duduk, diam  dan lain sebagainya kemudian  kita serahkan makna yang sesungguhnya kepada Alloh SWT.

Contoh-contoh Ta’wil :

Al-Imam Bukhori r.a. juga menta’wil ayat Al-Qur’an,  dalam ayat :

﴿ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾
               Imam Bukhori sendiri mengatakan bahwasanya :
﴿ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾  "kecuali kerajaan Alloh SWT , atau   مُلْكُهُ "kekuasaan Alloh SWT".
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaniy menyebutkan di dalam kitab Fathul Bari  riwayat dari Sayyidina Ibnu Abbas bahwasanya :
 ﴿ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ ﴾
ساق di sini bukan diartikan betis Alloh SWT. Sayyidina  Abdulloh bin Abbas r.a. beliau memberi makna ayat :
 ﴿ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ ﴾
maksudnya adalah :
عَنْ شِدَّةٍ مِنَ اْلأَمْرِ
                "di saat suatu suasana yang sangat dahsyat, sangat mengerikan".
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Mujahid di dalam Asmaus Sifat, di situ  ayat disebutkan  :

﴿ فَأَيْنَ تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ الله ﴾
 "Dimanapun kamu menghadap di situlah wajah Alloh SWT"
Di sini diartikan oleh Imam Mujahid bahwasanya :
﴿ وَجْهُ الله ﴾ di sini adalah "قِبْلَةُ الله" (qiblat Alloh SWT) bukan wajah Alloh SWT. Jadi ahli Ta’wil berkata wajah Alloh SWT di sini bukanlah wajah seperti yang  kita pahami.              

Contoh ini sudah sangat cukup bagi orang yang berfikir untuk jadi panutan dalam memahami firman Alloh SWT dan hadits Nabi yang secara dhohir maknanya menyerupakan Alloh SWT dengan makhluqnya. Ada sekelompok orang yang mengingkari ta’wil bahkan menuduh ahli ta’wil dengan kesesatan. Itu artinya mereka menganggap sesat ulama-ulama besar dari para salaf. Dan atas izin Alloh SWT kami akan sebutkan lebih luas lagi  pada silsilah selanjutnya ayat-ayat dan hadits Nabi yang kita harus menta’wilinya.
Wallohu a’lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar