بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الأحد الصمد الذي ليس كمثله شيئ والصلا ة والسلام على إمام الموحدين سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين أما بعد
Kita
akan berbicara tentang ayat-ayat mutasyabihat atau ayat-ayat sifat dan
hadits-hadits sifat. Maksudnya adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an atau
hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, yang secara dhohir menunjukkan bahwa
Alloh SWT mempunyai anggota badan, seperti : mata, tangan, wajah dan
lain sebagainya. Atau sesuatu hal yang menjadi kekhususan sifat-sifat
makhluk, seperti : duduk, turun dan lain sebagainya. Kemudian
lafadz-lafadz tersebut dinisbatkan dalam ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi
SAW kepada Alloh SWT.
Dalam hal ini ada kelompok-kelompok yang sesat di dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut.
Kelompok Yang Sesat ( Ahli Ta’thil dan Ahli Tasybih )
Ahli Ta'thil
Kelompok
sesat yang pertama adalah ahli ta'thil, yaitu : Mereka yang serta merta
mengatakan Alloh SWT tidak bersifat seperti itu. Ini adalah kelompok
pertama yang sesat. Misalnya tentang ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
﴿ الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ﴾
“Alloh SWT beristiwa’ di atas ‘arasy”
Ahli
ta'thil mengatakan bahwasanya Alloh SWT tidak beristiwa' atau ada ayat
Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Alloh SWT berfirman :
﴿ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدي ﴾
"yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku"
Kemudian
ahli ta'thil mengatakan bahwa Alloh SWT tidak mempunyai tangan maka itu
adalah ahli ta'thil yang sesat. Sebab benar-benar tersebut di dalam
Al-Qur’an tentang masalah tangan dan istiwa'nya Alloh SWT akan tetapi
mereka mengingkarinya.
Ahli Tasybih
Orang
tersesat yang kedua adalah mereka yang mengukuhkan sifat tersebut,
tetapi dibawa kepada makna dhohirnya. Makna dhohir yang sudah biasa
dipahami oleh manusia. Jika disebut tangan, semua orang yang berakal
akan faham bahwasanya yang dimaksud tangan adalah tangan yang ada di
anggota tubuh. Bahkan jika kita menemukan binatang yang pertama kali
kita melihatnya sekalipun, kita bisa menunjuk mana tangan dan mana kaki.
Jadi kalau disebut tangan, maka akan terbayang di benak seorang hamba
adalah tangan yang telah atau pernah diketahui.
Dalam hal
sifat-sifat Alloh SWT ada sekelompok yang langsung mengukuhkan sifat
tersebut dan dibawa kepada makna dhohir lafadz tersebut dan ini pun
adalah juga kelompok sesat, ini adalah ahli tasybih yang menyerupakan
Alloh SWT dengan makhlukNya. Sungguh Alloh SWT sangat berbeda dengan
makhluqNya :
﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ﴾
Bahkan
kadang-kadang mereka para ahli tasybih masih berhujjah dan berkata
"kita bawa lafadz ini kepada makna dhohirnya lalu kita serahkan makna
yang sesungguhnya kepada Alloh SWT. Ini adalah suatu pertentangan yang
jelas dalam memahami ayat tersebut, sebab kalau seseorang mendengar
kalimat tangan atau wajah disebutkan maka tidak akan difahami kecuali
bentuk jisim dan benda materi yang sudah maklum itu, dan ini tidak
boleh dinisbatkan kepada Alloh SWT.
Bentuk pertentangan
kelompok ini adalah saat mengatakan bahwasanya memang betul yang
dimaksud wajah dan tangan itu seperti dhohir lafadznya, akan tetapi
maknanya kita serahkan kepada Alloh SWT. Mereka mengatakan "kita
serahkan pada Alloh SWT", dalam waktu yang bersamaan dia telah
mengukuhkan bahwasanya maksudnya seperti yang disebutkan dalam
lafadznya. Ini adalah pernyataan yang saling bertentangan. Bagaimana
menyerahkan maknanya kepada Alloh SWT sementara mereka telah menentukan
makna pemahamannya dengan akalnya. Maka jelas ini adalah tidak benar,
mereka adalah ahli tasybih yang menyerupakan Alloh SWT dengan makhluq.
Kelompok Yang Selamat (Ahli Tafwidh dan Ta’wil)
Ini
adalah kelompok yang selamat. Yaitu kelompok yang menjauhkan lafadz
tangan, wajah dan lain sebagainya dari makna dhohirnya. Kemudian setelah
menjauhkan dari makna dhohirnya, ada dua cara dalam memahami
lafadz-lafadz tersebut :
Kita serahkan maknanya kepada Alloh SWT. inilah yang disebut ahli Tafwidh.
Kita mencari makna yang sesuai dengan Kebesaran Alloh SWT, sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab.
Misalnya
kalau kita menyebut istiwa' Alloh SWT atau tangan Alloh SWT, maka
menurut ahli Tafwidh pertama kali yang harus dilakukkan adalah
menyerahkan maknanya kepada Alloh SWT dengan menjauhkan lafadz tersebut
dari makna dhohir yang biasa difahami oleh akal manusia. Ahli Ta’wil
mengatakan bahwa kita jauhkan dari makna dhohirnya kemudian kita carikan
makna yang sesuai lafadz tersebut dengan dalil-dalil yang sudah jelas,
misalnya lafadz istawa dalam :
﴿ الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوٰى ﴾
"Alloh SWT di atas 'arsy"
Bisa kita artikan di sini "Berkuasa", karena memang Alloh SWT :
﴿ عَلى كُلِّ شًيْءٍ قَدِيْر ﴾
"Alloh SWT Maha Berkuasa atas segala sesuatu"
Atau
makna yang lainnya yang sesuai dengan Kebesaran Alloh SWT. Artinya
sifat Alloh SWT Yang Maha Kuasa adalah sesuatu yang sudah jelas dan
pasti benar di dalam syari'at. Kita menghadirkan makna ini bukan kita
mengubah makna lafadz yang ada akan tetapi untuk menjauhkan dari
makna dhohir yang bagi orang yang belum bisa mengerti tafwidh akan
menghantarkan kepada tajsim atau tasybih atau menganggap Alloh SWT itu
jisim dan materi atau menyerupakan Alloh SWT dengan makhluqnya.
Abul
Hasan Al-Asy'ari dan Asya'iroh menggunakan manhaj Tafwidh dan manhaj
Ta'wil. Dan ini semua adalah karena mencontoh Ulama'-Ulama' terdahulu.
Artinya manhaj Tafwidh dengan Ta'wil itu sudah ada pada zaman para
salafuna sholih. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa para salaf tidak
pernah menta’wil.
Contoh-contoh Tafwidh :
Disebut wajah Alloh SWT dalam Al-Qur’an :
﴿ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾
"Semuanya hancur kecuali wajah Alloh SWT"
Ahli tafwidh memahami dengan dua kaidah:
1. Kita jauhkan dari makna wajah yang kita pahami.
2. Kita serahkan maknanya kepada Alloh SWT, tidak usah dibahas begini dan begitu. Begitu juga ayat :
﴿الرَّحْمنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوى ﴾
Maka
yang harus kita pahami adalah menjauhkan dari pada makna istiwa' yang
sudah kita ketahui, seperti : bersemayam, duduk, diam dan lain
sebagainya kemudian kita serahkan makna yang sesungguhnya kepada Alloh
SWT.
Contoh-contoh Ta’wil :
Al-Imam Bukhori r.a. juga menta’wil ayat Al-Qur’an, dalam ayat :
﴿ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾
Imam Bukhori sendiri mengatakan bahwasanya :
﴿ إِلاَّ وَجْهَهُ ﴾ "kecuali kerajaan Alloh SWT , atau مُلْكُهُ "kekuasaan Alloh SWT".
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaniy menyebutkan di dalam kitab Fathul Bari riwayat dari Sayyidina Ibnu Abbas bahwasanya :
﴿ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ ﴾
ساق di sini bukan diartikan betis Alloh SWT. Sayyidina Abdulloh bin Abbas r.a. beliau memberi makna ayat :
﴿ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ ﴾
maksudnya adalah :
عَنْ شِدَّةٍ مِنَ اْلأَمْرِ
"di saat suatu suasana yang sangat dahsyat, sangat mengerikan".
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Mujahid di dalam Asmaus Sifat, di situ ayat disebutkan :
﴿ فَأَيْنَ تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ الله ﴾
"Dimanapun kamu menghadap di situlah wajah Alloh SWT"
Di sini diartikan oleh Imam Mujahid bahwasanya :
﴿
وَجْهُ الله ﴾ di sini adalah "قِبْلَةُ الله" (qiblat Alloh SWT) bukan
wajah Alloh SWT. Jadi ahli Ta’wil berkata wajah Alloh SWT di sini
bukanlah wajah seperti yang kita pahami.
Contoh
ini sudah sangat cukup bagi orang yang berfikir untuk jadi panutan
dalam memahami firman Alloh SWT dan hadits Nabi yang secara dhohir
maknanya menyerupakan Alloh SWT dengan makhluqnya. Ada sekelompok orang
yang mengingkari ta’wil bahkan menuduh ahli ta’wil dengan kesesatan. Itu
artinya mereka menganggap sesat ulama-ulama besar dari para salaf. Dan
atas izin Alloh SWT kami akan sebutkan lebih luas lagi pada silsilah
selanjutnya ayat-ayat dan hadits Nabi yang kita harus menta’wilinya.
Wallohu a’lam bishshowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar